Rabu, 24 Juni 2015

Assalamu’alaikum wr. wb.

Hai semuanya, lama banget rasanya ga nge post di blog ini. Soalnya lagi sIbuk juga sih. Kebetulan juga sih sekarang lagi banyak waktu luang di rumah, sambil nunggu buka puasa, hehehe.
Kali ini, saya akan menceritakan kisah hidup saya sendiri.
Kehidupan saya sudah berubah 180°. Semenjak di tinggal pergi Bapak saya. Itu merupakan tamparan keras buat saya. Soalnya tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Ini adalah bagian yang pahit di hidup saya. Mungkin sobat blogger juga perrnah merasakannya bagi yang sudah di tinggal pergi orangtuanya.
Hari itu hari rabu, 25 maret 2015. Aku pulang dari mengaji. Tiba tiba aku mendengar kabar bahwa Bapak masuk rumah sakit. Beliau ternyata terkena mal praktek saudaranya sendiri yang menjadi tukang pijat. Satu minggu lamanya beliau terbaring di RS dan tak sadarkan diri. Dan pada 31 maret 2015 beliau meninggal dunia.
Tugasnya telah selesai di dunia. Selama di dunia beliau orang yang baik. Bapak juga merupakan sosok Bapak yang luar biasa. Beliau berusaha menyetarakan aku dengan teman-teman. Mesipun sebenarnya kami bukan dari keluarga berada, tapi beliau berusaha keras untuk itu. Pekerjaannya hanya sopir angkot. Tapi beliau memanjakan aku lebih dari teman-teman. Beliau orangnya juga humoris. Beliau selalu bisa membuat aku tertawa saat aku sedih.
Satu hal yang paling ku sesalkan, semasa hidup bapak, beliau masih belum pernah hidup enak. Semasa hidupnya, beliau masih terus berusaha keras bekerja banting tulang untuk mencukupi biaya sekolahku yang memang tidak sedikit. Aku di sekolahkan di sekolah favorit. Itu karena beliau ingin aku mejadi yang terbaik.  
Dulu aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan membahagiakan kedua orang tuaku. Aku akan membuat mereka berdua menikmati masa tua mereka sambil tergambar simpul senyum di wajahnya yang mulai mengeriput. Dan menjadikan mereka berdua bangga dengan saya.Tapi recana tinggal rencana. Allah mempunyai rencana lain yang menurutnya lebih indah. Allah lebih mencintai Bapak. Jadi Dia mengambil beliau lebih pagi. Kejadian yang sulit diterima. But life must go on. Aku harus meneruskan hidup tanpanya. Berharap di surga nanti akan berkumpul lagi.
Sekarang aku bersama Ibu yang sekaligus menadi kepala keluarga di rumah. Kita sesekali menangis mengingat masa lalu yang indah bersama bapak. Tapi kita ingat bahwa beliau sekarang sudah bahagia berada di sisi-Nya. Tinggal kita berdua yang harus terus menjalani hidup ini sambil mencari bekal untuk menyusul bapak nanti.
Sekian ya sobat. Terimakasih banyak karena telah menyempatkan membaca kisah saya. Oleh karena itu, sayangi bapak Ibu kalian selagi masih bisa menemani kalian. Jangan pernah menyakiti mereka. Mereka adalah asset yang sangat berharga bagi kita .


Wassalamu’alaikum wr. wb.